Minggu, 23 Februari 2014

SEKILAS TENTANG SOE HOEK GIE


 “Gila! Umur 14 tahun dia sudah baca bukunya Gandhi, Tagore ( Rabindranath Tagore, filsuf India ). Saya mungkin perlu waktu 10 tahun untuk bisa mengejar, puji Nicholas Saputra tentang Gie. “Saya sering mendapatinya asyik membaca di bangku panjang dekat dapur, kenang kakaknya, sosiolog Arief Budiman yang kini menetap di Australia. Kakak perempuannya Dien Pranata punya kenangan berbeda. Ketika anak - anak sebayanya asyik mengejar layangan, Gie malah nongkrong di atap genting rumah. “Matanya menerawang jauh, seperti mencoba menyelami buku - buku yang dibacanya. Selain membaca, Gie juga suka menulis buku harian. Sejak usia 15 tahun, setiap hari, ia menulis apa saja yang dialaminya. Catatan harian pertamanya bertanggal 4 Maret 1957, ketika ia masih duduk di kelas 2 SMP Stada. Catatan terakhir bertanggal 10 Desember 1969, hanya seminggu sebelum kematiannya.

BERANI MENGKRITIK
 Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969 Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66. Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media masa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie memilih menyepi ke puncak - puncak gunung ketimbang menjadi anggota DPR-GR.
Sebagai anak muda, walaupun suka mengkritik dan doyan menyendiri, Gie ternyata sangat
“gaul. “Penampilannya, biasa aja. Tapi kenalannya orang berpangkat dan nama-nama beken. Saya tahu, karena sering ikut dia. Misalnya saat ambil honor tulisan di Kompas atau Sinar Harapan. Nggak terbayang dia bisa kenalan dengan penyair Taufik Ismail dan Goenawan Mohamad! , kata Badil      .

TEWAS DI PUNCAK SEMERU
 “Saya selalu ingat kematian. Saya ingin ngobrol - ngobrol, pamit, sebelum ke Semeru, begitu penggalan catatan harian Gie, Senin, 8 Desember 1969. Seminggu setelah itu, ia bersama Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo berangkat ke Gunung Semeru. Siapa mengira, itulah terakhir kalinya mereka mendaki bersama Gie. Tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulangtahunnya ke 27 Gie dan Idhan Lubis tewas saat turun dari puncak karena menghirup uap beracun. Herman Lantang yang berada di dekat Gie saat kejadian melihat Gie dan Idhan kejang - kejang, berteriak dan mengamuk. Herman sempat mencoba menolong dengan napas buatan, tapi gagal. Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke Jakarta. Tiba - tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang. Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!, kata Badil.
Jenasah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24 Desember 1969, dia dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya kena gusur proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman - temannya, memutuskan menumbuk sisa - sisa tulang belulang Gie. “Serbuknya kami tebar di antara bunga - bunga Edelweiss di Lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung seperti patung.

TENTANG GUNUNG


KEMATIAN TIDAK DAPAT DIPERCEPAT DENGAN NAIK GUNUNG……
JUGA TIDAK DAPAT DIPERLAMBAT DENGAN TIDAK NAIK GUNUNG……
DAN GUNUNG BUKANLAH SESUATU YANG MENAKUTKAN……….
MELAINKAN SALAH SATU YANG TERINDAH DI MUKA BUMI INI.

Gunung itu memang curam, tapi ia lembut. Gunung itu memang terjal, tapi ia ramah dengan membiarkan tubuhnya diinjak – injak. 

KITA TAKAN PERNAH MENEMUKAN INDAHNYA EDELWEIS YANG HARUM DAN TAKAN PERNAH MELIHAT  SUNSET/SUNRISE  TERINDAH DAN KITA JUGA TAKAN PERNAH MERASA BERDIRI DIATAS AWAN KECUALI DENGAN KITA NAIK GUNUNG………….

Di gunung, di ketinggian kaki berpijak, di sanalah tempat yang paling damai dan abadi. Dekat dengan Tuhan dan keyakinan diri yang kuat. Saat kaki menginjak ketinggian, tanpa sadar kita hanya bisa berucap bahwa alam memang telah menjawab kebesaran Tuhan. 





Tentang Pendaki

PECINTA ALAM BELUM TENTU MENDAKI GUNUNG.
PENDAKI GUNUNG JUGA BELUM TENTU MENCINTAI ALAM.
PECINTA ALAM ADALAH BAGAIMANA KITA MENSIKAPI SEMUA APA YANG KITA LAKUKAN TANPA MERUGIKAN LINGKUNGAN TAPI SEBALIKNYA BERUSAHA UNTUK MEMINIMALISIR KERUSAKAN LINGKUNGAN DAN CENDERUNG TETAP MENJAGA LINGKUNGAN AGAR TETAP LESTARI.

Kata Mutiara


Mendaki gunung bukan berarti menaklukan alam, tapi lebih utama adalah menaklukan diri sendiri dari keegoisan pribadi.

Mendaki gunung adalah kebersamaan, persaudaraan, dan saling ketergantungan antar sesame.

Di alam bebas adalah pembuktian diri dari suatu pribadi yang egois dan manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Ada banyak luka di tangan, ada kelelahan di kaki, ada rasa haus yang menggayut di kerongkongan, ada tanjakan yang seperti tak ada habis – habisnya. Namun semuanya itu menjadi tak sepadan dan tak ada artinya sama sekali saat kaki menginjak ketinggian.

Lukisan kehidupan pagi Sang Maha Pencipta di puncak gunung tidak bisa diucapkan oleh kata – kata. Semuanya cuma tertoreh dalam jiwa, dalam hati. Usai menikmati sebuah perjuangan untuk mengalahkan diri sendiri sekaligus menumbuhkan percaya diri, rasanya sedikit mengangkat dagu masih sah – sah saja.

Menghargai hidup adalah salah satu hasil yang diperoleh dalam mendaki gunung. Betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan, di mana kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Satu kali mendaki, satu kali pula kita menghargai hidup. Dua kali mendaki, dua kali kita mampu menghargai hidup. Tiga kali, empat kali, ratusan bahkan ribuan kali kita mendaki, maka sejumlah itu pula kita menghargai hidup.  

Kehidupan di alam bebas tidak akan pernah terlepas dari berbagai macam tantangan namun perlu disadari Tantangan terbesar bukan berasal dari alam atau medannya, namun tantangan terbesar adalah mengendalikan emosi saat berada di alam bebas.

Jangan katakana kamu adalah seorang pemberani jika takut bergabung bersama petualangan kami.

Ada banyak hal yang bias kita pelajari dari hidup di alam bebas, yang mungkin tak dimengerti oleh mereka yang belum ikut langsung dalam perjalanan kita.

sebuah prinsip yang dipegang saat kita ke alam liar, yaitu “Tidak MENINGGALKAN apapun kecuali JEJAK, Tidak MENGAMBIL apapun kecuali FOTO/GAMBAR, dan Tidak MEMBUNUH apapun kecuali WAKTU”.





Kamis, 20 Februari 2014

Bagaimana Memimpin perjalanan hiking



Ada banyak kesenangan dalam memimpin perjalanan jika Anda berpengalaman.. Selain melakukan apa yang Anda nikmati secara teratur Anda juga bisa berbagi dengan orang-orang yang memiliki kepentingan bersama. Para peserta perjalanan biasanya berterima kasih kepada Anda ketika melakukan perjalanan  dengan enak dan mereka bias belajar bagaimana memimpin sebuah perjalanan.
Langkah1
Gali informasi tentang jalur perjalanan sebelum perjalanan dijadwalkan untuk dapat mengetahui setiap perubahan yang mungkin mengakibatkan Anda kehilangan salah satu anggota kelompok.. Bahkan hal-hal yang dapat mengubah jalur seperti hilangnya petunjuk. Juga mengawasi perubahan alam seperti air yang tinggi yang mungkin mengakibatkan Anda perlu mengambil jalan memutar.
Langk 2
Beritahu pejalan kaki di depan waktu kondisi cuaca yang dapat mengakibatkan pembatalan. Periksa ramalan cuaca malam sebelum perjalanan karena dapat berubah dengan sangat cepat. Putuskan apakah Anda akan melanjutkan dengan perjalanan atau tidak jika cuaca tidak bagus.. Jika Anda memutuskan untuk membatalkan perjalanan,  beritahukan kepada pendaki lain.
Langkah 3
Kondisi tubuh dan Paket perlengkapan dipastikan bahwa benar-benar siap.. Jika Anda membawa unit GPS atau ponsel pastikan sudah terisi penuh.. Sertakan kit pertolongan pertama dalam perlengkapan Anda.
Langkah 4
Diawal anda harus meyakinkan para pendaki bahwa mereka berada di tempat yang benar. Sambil memeriksa kondisi mereka untuk memastikan mereka cukup siap untuk terus mendaki Jika Anda merasa bahwa perjalanan tersebut akan aman. Kemudian menceritakan apa perjalanan tidak cocok untuk mereka jika merasa tidak aman atau berbahaya.
Langkah 5
Atur perlahan-lahan mulai memberi orang kesempatan untuk memilah-milah ke dalam kelompok Menunjuk seorang pejalan kaki yang berpengalaman yang juga akrab dengan jalur perjalanan untuk di bagian belakang dan pastikan bahwa tidak ada peserta yang terluka.
Langkah 6
Berhenti di tempat yang menarik.. Biarkan anggota kelompok lainnya untuk mengejar ketinggalan jika Anda ingin berbagi sesuatu yang menarik tentang lokasi. Pilih salah satu tempat menarik untuk berhenti untuk makan siang jika Anda memiliki  jadwal dalam perjalanan.
Langkah 7
Sejenak sekitar mereka setelah perjalanan untuk menjawab pertanyaan. Ini juga merupakan saat yang tepat untuk menerima umpan balik pada kemampuan Anda untuk memimpin sebuah perjalanan

Camp Sementara pendaki gunung


Apakah Anda mencoba untuk melarikan diri dari badai atau hanya mencari tempat untuk tidur setelah satu hari penuh melakukan perjalanan, menjelajahi atau scaling gunung. mencari tempat berlindung perlu menjadi prioritas pertama Anda..gunakan akal dan gunakan apa yang Anda miliki bersama dengan apa yang Alam tawarkan untuk menemukan dan membuat tempa perlindungan yang handal.
Instructions Petunjuk
Langkah 1.
Pilih lokasi yang secara alami menyediakan tempat perlindungan. Cari tempat keluar angin atau setidaknya memiliki angin di belakang Anda. Mencari ruang yang cukup besar bagi Anda untuk tidur dan yang melindungi Anda dari unsur-unsur dan hewan lapar. Periksa wilayah untuk tanaman beracun, ular, serangga, kalajengking, dan semut menyengat. Hal terakhir yang Anda inginkan adalah bangun tertutup dari serangga.
Langkah 2.
Tinggal jauh dari zona bahaya. jelas tentang wilayah banjir bandang, tempat tidur sungai kering, daerah longsoran batu, tebing, jurang dan tanah rendah. Hindari rawa, karwna daerah rawa lebih dingin pada malam hari dari lokasi yang lebih tinggi Jika badai menjemput saat Anda tidur, Anda mungkin menemukan diri di sebuah sungai tengah mengamuk dalam waktu singkat.
Langkah 3.
 Carilah pohon dengan diameter besar untuk melindungi Anda dari angin dan mendirikan kamp melawan arah angin. Semakin padat cabang-cabang di atas kepala Anda, memberi Anda perlindungan lebih dari hujan.
Langkah 4
. Cari gua. Hal ini juga sering jadi pilihan terbaik, tapi sepertinya tidak pernah ada di sekitar anda saat Anda membutuhkannya. Ingat bahwa jika Anda menemukan tempat perlindungan yang besar, hewan lain mungkin ditemukan juga. Tinggal dalam jarak yang wajar dari pintu masuk gua.dalam kasus gua, keruntuhan struktural gua mungkin terjadi dan memaksa Anda untuk kabur.
Langkah 5. Membuat beberapa kain teduh dengan apa yang Anda miliki. Hal ini sangat penting dalam iklim kering, Gunakan batu besar atau tumpukan gundukan pasir pada kedua ujung ruangan Anda. Anchor ponco Anda ke batu atau gundukan dengan benda berat. penampungan ini tidak mungkin cuaca badai, namun memberikan Anda beristirahat dari matahari.
Langkah 6.
 Ketika hiking, menemukan tunggul pohon, batu besar atau pohon yang kokoh. Jangkarkan keujung cabang pohon atau tiang yang panjang pada tunggul untuk membuat tripod. Ini adalah dasar pondok. dealnya panjang tiang dekat dengan tinggi badan Anda. Set cabang besar melawan tiang sehingga berbentuk tenda. Periksa bahwa Anda cocok di dalam ruang yang Anda ciptakan. Tutup dengan ilalang lalu daun pinus, rumput atau daun di cabang-cabang yang lebih kecil sampai tebal satu inci.
Langkah 7.
Menggali tanah untuk menciptakan tempat berlindung. tanah, tempat perlindungan Anda lebih stabil.gali persegi panjang di tanah sesuai ukuran Anda. Jika lubang terlalu besar, ada efek pemanasan dari panas tubuh. Tutup lubang dengan cabang, terpal, besi bekas atau apa pun yang Anda temukan di dekatnya. Buat lubang di atap untuk ventilasi sebelum menetap di situ

Kami tak pantan disebut PECINTA ALAM


Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat, orang yang cinta akan termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik dari pada sebelum ia mengenal cinta itu. Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita sendiri.
Pecinta alam adalah dua buah kata yanng mungkin selalu menjadi tanda tanya di setiap orang, karena pecinta alam itu sendiri mengandung pengertian yang sangat luas sehingga menimbulkan berbagai macam pengertian dari tiap tiap golongan, kelompok, bahkan masing-masing individu. Pecinta alam berawal dari Cinta berarti menyukai, mengagumi, dan menyayangi. Pecinta disini adalah orangnya atau “ pelaku “, sedangkan alam sebagai objeknya atau “ korban “. Sehingga pecinta alam berarti orang yang menyukai, mengagumi, dan menyayangi alam.
saat kita menyandang nama pecinta alam, maka sudah selayaknya kita menjaga kelestarian alam, Karena jika kita mencintai sesuatu, maka logikanya kita akan menjaga sesuatu tersebut dengan baik. Menyandang sebuah nama ataupun gelar mengharuskan kita untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nama yang kita sandang, jika kita menyandang nama pecinta alam maka kita harus berbuat dan bertindak mencintai alam, jangan sampai kita ikut membiarkan bahkan merusak alam.
Kami menamai diri kami sebagai para petualang, karena kami menyalurkan hobby dengan menggeluti alam bebas, kami gemar berada dalam posisi menghadapi tantangan untuk mencari “ kepuasan “tersendiri. Kehidupan di alam bebas tidak akan pernah terlepas dari berbagai macam tantangan namun perlu disadari Tantangan terbesar bukan berasal dari alam atau medannya, namun tantangan terbesar adalah mengendalikan emosi saat berada di alam beba
Kami menghargai dan meyakini kebesaran tuhan, maka kami akan berusaha untuk menjaga kelestarian alam hutan dan gunung yang kami lalui. Dalam setiap petualangan, kami berpegang teguh pada Kode Etik Pecinta Alam, karna kami sadar bahwa alam adalah tanggung jawab bagi semua manusia, meski kami akan terus berusaha dalam melestarikan alam tetapi kami tak pantas menyandang gelar pencinta alam karna kami takut jika perbuata kami tidak bias menjaga kelestarian alam dan kami sadar kami tak mampu membalas rasa cinta yang alam berikan kepada kami.